
Kondisi tambak udang dipasena
BintangSatu.com,- Tulang Bawang. Selama tiga tahun terakhir, hasil produksi budidaya udang Vanamei petani tambak di Bumi Dipasena, Rawajitu Timur, Tulang Bawang, Lampung, terus mengalami penurunan drastis karena seringkali gagal panen, akibat serangan penyakit.
Kegagalan dalam budidaya ini berdampak terhadap kesulitan ekonomi bagi petani tambak dan keluarga mereka, bahkan untuk kebutuhan sehari-hari saja mereka harus mencari pekerjaan tambahan seperti menjadi kuli upah di luar area pertambakan Dipasena.
Gede Brata (60) bersama istrinya, Niketut Maryati (50), mengungkapkan kepiluan mereka saat ditemui di rumah mereka di Kampung Bumi Dipasena Mulya, Blok 8 Jalur 59 No 7, pada Minggu (12/5). Satu tambak mereka terlihat kosong dan dibiarkan terbengkalai.
Gede Brata dalam kesempatan tersebut menyampaikan keluhan tentang situasi ekonomi keluarganya. Sebagai petani tambak Dipasena sejak 1994, ia merasa keadaan ekonominya tiga tahun terakhir ini sangat sulit. Modal mereka telah habis karena gagal panen berulang. Saat ini, ia hanya mampu menebar benur sebanyak 15 ribu ekor saja per tambak. Jumlah yang sedikit itu pun masih rentan terserang penyakit, padahal padat penebaran sudah jauh berkurang. “Kalau empat tahun yang lalu, kami bisa menabur 125 ribu ekor benur per tambak dengan hasil panen di atas 1,5 ton,” ungkap Gede Brata dengan sedih.
Gede Brata tidak sendirian, ribuan petambak udang Bumi Dipasana mengalami nasib serupa. Kini para petambak berusaha bekerja serabutan, melakukan apa pun untuk sekadar memenuhi kebutuhan dapur keluarga.
Kepala Kampung Bumi Dipasena Jaya, Dediyono, membenarkan kesulitan ekonomi yang dihadapi oleh masyarakat pertambakan Dipasena. Produksi udang Dipasena saat ini hanya berkisar antara 5 ton sampai 10 ton per hari, sebelumnya bisa mencapai 80-100 ton per hari. Maksimal tidak sampai 10 persen saja petambak yang bisa panen finish itupun keuntungan tidak signifikan, karena berhasil sekali, gagalnya berkali-kali.
Menurutnya, saat ini banyak warga yang terpaksa mencari pekerjaan di luar pertambakan karena mereka gagal panen udang secara terus-menerus. “Warga terpaksa menjadi kuli upah, seperti kuli babat rumput di perkebunan sawit, kuli tebang pohon tebu, kuli ikat padi yang roboh, bahkan ada yang menjadi asisten rumah tangga untuk menyambung hidup, dan banyak juga petambak yang terpaksa menelantarkan tambak milik mereka karena kehabisan modal,” kata Dediyono.
Sementara itu, Kepala Bidang Budidaya Perhimpunan Petambak Pembudidaya Udang Wilayah Lampung (P3UW Lampung) Suryadi, menjelaskan bahwa penurunan produksi disebabkan oleh serangan Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND), penyakit yang disebabkan oleh bakteri Vibrio yang menyerang hepatopankreas udang. Gejalanya antara lain hepatopankreas yang membengkak dan kematian udang mulai dari usia 14 hari, bahkan ada yang baru seminggu di tambak. Kematian ini terjadi secara terus-menerus, akibatnya populasi udang habis.
Lebih lanjut dijelaskan, bakteri ini berkembang pesat di lumpur yang mengandung amoniak, baik lumpur sedimentasi maupun lumpur sisa pakan yang tidak terurai.
“Berbagai upaya telah dilakukan P3UW Lampung seperti pengerukan lumpur di muara pintu dam, pengerukan lumpur di saluran pasok, penggunaan probiotik dari jenis bakteri fotosintesis dan probiotik jenis Lactobacillus, seleksi benur yang lulus uji virus dan uji laboratorium penyakit udang namun hasilnya belum dapat mengatasi masalah yang ada,” pungkas Suryadi. (Red)