
BintangSatu.Com,-Tulang Bawang. Infrastruktur jalan sejatinya adalah urat nadi kehidupan dan simbol kehadiran negara bagi rakyatnya. Namun di Kecamatan Rawa Jitu Selatan yang notabennya merupakan lumbung pangan dengan 90% penduduk bergantung pada sektor pertanian padi kondisi jalannya tak pernah tersentuh pemerintah.
Masyarakat desa Medasari mengkalim saat ini didesanya masuk dalam kalimat “darurat jalan” , hal ini justru menjadi momok yang mencekik ekonomi warga. Akses jalan yang layak bukan lagi sekadar kebutuhan teknis, melainkan persoalan harga diri dan hak warga negara yang selama ini terabaikan di tengah lumpur dan debu.
Potret buram pembangunan ini terlihat nyata di Kampung Medasari, dimana jalan kabupaten penghubung Tulang Bawang dan Mesuji sepanjang 3 kilometer dibiarkan hancur selama lima tahun tanpa sentuhan pemerintah. Ketimpangan Pembangunan kabupaten Mesuji yang berdampingan lebih maju dan tertata.
Sutarji (51) Ketua RK sekaligus Ketua Pokmas Kampung Medasari mengungkapkan perasaan pedih warga yang merasa desa mereka seakan dianaktirikan. Di saat wilayah Mesuji sudah menikmati akses jalan rigid beton yang mulus, warga Medasari kecamatan Rawajitu Selatan, Tulang Bawang justru harus berjibaku dengan lubang dan lumpur setiap harinya.
“Masyarakat kami mempertanyakan
Pemerintah Daerah, apa bedanya Tulang Bawang dan Mesuji? Di sana jalan sudah dicor beton dan mulus, sementara di tempat kami sudah 5 tahun lebih rusak parah. Sampai sekarang tidak pernah dikunjungi oleh DPRD maupun Bupati,” tegasnya dengan nada kecewa.
Satu Dekade Gotong Royong dan Dana Swadaya, Ketiadaan perhatian dari pemerintah memaksa warga untuk mengambil alih tanggung jawab negara. Selama 10 tahun terakhir, perbaikan jalan hanya mengandalkan tenaga gotong royong dan pendanaan swadaya dari kantong masyarakat sendiri.
Bagi warga yang mayoritas adalah petani sawah, beban ini dirasa kian berat karena harus membagi hasil tani yang tak seberapa untuk menambal akses distribusi hasil panen mereka. Minimnya kehadiran pejabat publik di lapangan mempertebal rasa skeptis warga.
Aspirasi yang disampaikan seolah hanya menguap tanpa ada tindak lanjut nyata dari para wakil rakyat maupun kepala daerah. Harapan pada Bukti Nyata, Bukan Sekadar Janji. Kini, rasa sabar masyarakat telah mencapai titik jenuh.
Kondisi jalan yang rusak tidak hanya menghambat mobilitas, tetapi juga melukai perasaan warga yang merasa kontribusi mereka sebagai petani tidak dihargai dengan fasilitas publik yang layak.
“Ini masyarakat sudah mengeluh, sakit perasaannya. Mohon responnya para anggota dewan dan Pak Bupati. Tolong kunjungi kami, karena kami butuh bukti nyata, bukan sekadar janji-janji,” pungkas Harno, warga yang melintas di jalan tersebut.
Masyarakat Kampung Medasari kini menanti langkah konkret dari Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang agar perbaikan jalan sepanjang 3 kilometer tersebut menjadi prioritas utama, demi menjamin kelancaran aktivitas pertanian dan ekonomi di wilayah Rawa Jitu Selatan. (Fitrian)